KISAH YANG TAK USAI

www.erlinaindrawathie.com/ Februari 2019/

KISAH YANG TAK USAI

Oleh Erlina Indrawati



“Cling”. Nada pesan masuk di handphone Anin berbunyi. Dengan malas Ia meraihnya. Ia tekan tombol baca. Sebuah pesan muncul dilayarnya.
“Belum bobo?...” Pertanyaan singkat yang menggelitik. Mata Anin mengerjap. Diliriknya jam digital di sudut kanan bawah layar laptopnya. Pukul satu kurang delapan menit. Sudah lewat tengah malam. Ia sedikit heran , siapa yang kurang kerjaan bertanya hal seperti itu di waktu begini. Matanya kembali menatap layar handphone. Ia penasaran ingin tahu. 

“Klik”. Sebuah nama tertera. “Ahhh…Dia”. Anin menghela nafas. Tiba- tiba ruangan tempatnya bekerja terasa pengap. Ditekannya tombol shutdown pada layar laptopnya. Anin beranjak keluar, membuka pintu depan dan duduk di bangku teras. Dihirupnya udara malam dalam- dalam. Hawa sejuk seketika memenuhi rongga kepalanya. Malam yang terang. Rembulan tersenyum ceria bercengkrama dengan barisan bintang- bintang yang membuat langit begitu indah. Diseberang jalan, sekumpulan anak muda bermain domino khas dengan canda gaya kekinian.

“Belum….” Balas Anin singkat.

Entah mengapa, ada debar yang tak biasa didadanya. Debar yang telah lama tidak ia rasakan, semenjak saat itu. Dipandangnya bintang- bintang yang menghias langit. Begitu indah. Seindah rasa yang tidak ia mengerti. 
“Blip”. Cahaya handphonenya berpendar lagi.

“ Lagi ngapain…..?”

Anin tertegun sejenak. Ia merasa seperti sebuah suara lembut menyapa. Suara yang dulu teramat dikenalnya. Matanya berkedip seraya menghela nafas panjang. Ditekannya tombol “balas”.

“Memandang bintang….” Singkat saja balasannya. Anin melempar pandangan pada bintang dan rembulan di langit malam. Sungguh, ia tidak menunggu jawaban dari lelaki itu.

“Bintang yang sama kah? Seperti yang selalu kita pandang dipantai waktu itu?”. Lelaki itu membalas.

“Ahh….” Anin tertegun bisu. Matanya menerawang. Betapa kenangan tujuh belas tahun silam tiba-tiba bermunculan lagi memenuhi rongga kepalanya. Kenangan yang selama ini sekuat tenaga ia kuburkan, hadir lagi, seperti potongan- potongan video yang muncul silih berganti merangkai sebuah kisah.

***

Anindya Rahmayanti, mahasiswi fakultas sastra inggris di salah satu universitas ternama negeri ini. 

*


*


*


* Kisah lengkapnya bisa di baca  dalam Buku Kumpulan cerpen bejudul "JANJI BULAN DISIANG HARI"  (OKSANA, 2018)

Masa- masa indah mereka habiskan bersama- sama. Mereka melantunkan kidung bersahaja, merajut mimpi masa depan, dan merangkai cerita.  Ada- ada saja kisah unik tercipta di belakang langkah yang mereka tinggalkan. Sedih, kecewa, canda dan tawa, semua membaur jadi satu. Layaknya gado-gado, meski bercampur aduk tetap saja sedap rasanya. Lalu, salahkah rasa jika kedekatan itu memantik bulir-bulir indah yang tak biasa?

Adalah Ihsan, lelaki kalem yang memiliki tatapan mata paling lembut adalah orang yang selalu ada untuk Anin kala itu. Saat Anin terpuruk dalam lautan airmata, ia selalu siaga menyeka dengan sapu tangan terindah. Saat Anin tak sanggup melangkah karena lelah, dengan sigap ia mengulurkan tangannya memapah  melewati tapak demi tapak hingga ke puncak tangga. Pun saat Anin didera dilema yang luar biasa, ia selalu setia menghibur dengan tarian jemari pada senar gitar, menciptakan nada-nada indah. 

Anin ingat betul lagu favorit yang sering mereka nyanyikan waktu itu. “You’re all I need” milik White Lion selalu saja bisa membuat lazuardi ungu berubah menjadi merah jambu. Itu pun juga menjadi lagu terakhir yang didengar Anin diujung telepon, sebelum ia benar- benar pergi meninggalkan cerita mereka yang belum usai kala itu.

“Hmmm….” Anin bergumam. Dilemparnya pandangan mata pada kumpulan bintang- bintang dilangit terang. Kembali ia teringat pada kebiasaan mereka masa itu. Hampir setiap senja, mereka menyambangi pantai didekat kampus meski sekedar untuk bermain air. Malam harinya ditempat yang sama mereka memandang rembulan yang selalu tersenyum manis. Kenangan tentang kebiasaan unik mereka menghitung bintang- bintang yang berserakan di langit kelam, berlatar pantai dan barisan pohon cemara  berjejer jumawa ditingkahi debur ombak samudera membuatnya tersipu malu. Tujuh belas tahun telah berlalu. Tetapi kenangan itu tetap lekat dalam ingatan. 

“Blip”. Pijar cahaya  yang memancar dari handphonenya membuat Anin tersadar.

“ Pasti bintang yang sama, iya kan?” pertanyaan itu hadir lagi. Butuh penegasan.  Lelaki itu, selalu saja bisa membuatnya hanyut terbawa perasaan. Anin menghela nafas panjang, berusaha lagi mengusir sesak.

“Mungkinkah bintang yang sama?” bukan jawaban yang diberikan. Anin balik mengirim tanya. Ia merasa tidak yakin. Seolah ingin memastikan bahwa saat ini ia tidak sedang berada pada mimpi masa lalu.

“Anin,….kangen nggak?”

Layar handphonenya kembali menyala. Anin terperanjat.  Matanya mengerjap. Dibacanya kembali kalimat itu dengan seksama. Pertanyaan yang sebenarnya biasa saja bila dibaca dalam kondisi normal. Seseorang yang pernah saling mengenal, kemudian tidak bertemu dalam waktu yang sangat lama, wajar saja jika menanyakan hal itu. Tetapi Anin tahu kondisinya saat ini sedang tidak dalam keadaan normal. Ia sedang terhanyut dalam perasaan yang melibatkan memori masa silam.

“Kangen apa?” balas Anin.

Jelas ia hanya berpura-pura lugu. Padahal jantungnya berdegup kencang. Sekuat tenaga ia berjuang melawan tekanan di hatinya agar dinding kokoh yang selama ini ia bangun tidak runtuh berkeping-keping.

“Kisah kita waktu itu…” Lelaki itu berusaha menyeret Anin kembali pada kenangan masa lalu. Anin mengerti. Ada yang belum selesai di antara mereka. Rasa yang waktu itu belum sempat terdefinisi. Tetapi saat ini ia terlalu takut untuk mengeksekusi.

“Sudah larut,….tidur, ya…” balas Anin, mengalihkan topik. Ia tak ingin semakin hanyut dalam lautan kenangan. Kenangan yang membuatnya melambung ke langit tertinggi. Pada mimpi bahagia yang dulu ia punya.

“Tapi masih kangen…”. Sebaris kalimat muncul lagi. Seolah memaksa Anin kembali menapaki memori.

“Tidak”. Bathin Anin menolak. Ia tidak ingin bermain api. Sebab ia tahu pasti, saat kenyataan hadir di depan mata, ia akan jatuh terhempas ke jurang terdalam. Ia tidak siap menukar apa yang telah ia miliki saat ini dengan mimpi indah masa lalu. Ia ingin hidup dalam kenyataan saat ini. Seindah apapun, masa lalu tetaplah masa lalu yang tersimpan dalam pigura bernama kenangan. Sedang hidup adalah kini dan nanti.

“Anin ngantuk, besok ada kelas pagi, selamat malam.” Tulis Anin kemudian. Ia bergegas masuk. Angin dingin dinihari mulai menusuk tulangnya. Ia harus beristirahat, meskipun hanya sejenak. Jarum jam menunjukkan pukul tiga lewat dua puluh menit.

“Cling”. Ada pesan masuk lagi.

  “Mimpi indah, ya, besok kita ngobrol lagi….”. kalimat itu membuat nafas Anin kembali sesak.

“Tidak. Jangan lakukan ini”. Anin menolak dalam hati. Ia  tidak yakin berapa lama ia sanggup bertahan  jika ini tetap ia lakukan. Terlalu banyak yang harus di korbankan. Anin kini telah memiliki dunianya sendiri dan sekuat tenaga ia berusaha untuk bahagia dengan dunianya yang nyata. Dunia yang dibangunnya setelah serpihan luka mengoyak nadi mereka.  Anin pun tahu pasti, lelaki itu juga telah memiliki hidup yang indah. Ia menghela nafas panjang. Bola matanya berputar cepat. Betapa ia telah melalui ribuan onak dan duri untuk tiba pada kenyataan ini. Ia tak ingin perjuangannya sia-sia, hancur tak bersisa hanya karena kepingan kisah dalam kenangan yang ia pun tak tahu bagaimana ujungnya. Anin percaya, mereka tidak  bersama waktu itu adalah karena takdir. Ia pun paham betul bahwa mereka tak cukup kuat untuk melawan ketentuan-Nya, meski dengan kekuatan bernama cinta. Sudah cukuplah luka mencabik rasa. Jangan sampai mencipta luka baru pada dunia yang sudah mereka bangun dengan susah payah.

“Maaf….” Diketiknya kata itu dengan cepat dan ia kirimkan. Tanda centang tertera di sana. Tanda pesan telah terkirim.

“Kenangan bersamamu memang indah”, bisik Anin dalam hati.

 “ Tetapi tetap saja, kamu adalah kenangan. Aku tak ingin kembali lagi ke tempat itu”. Jari Anin masih menari di antara tuts handphonenya.

“Blokir orang ini?” kalimat itu tampil pada layarnya. Mata Anin mengerjap sayu. Dipandangnya sosok yang tengah tertidur lelap dengan nafas teratur. Sosok  lelaki yang telah menemani hidup Anin selama tiga belas tahun terakhir. Sosok yang telah memberinya warna- warni indah dengan lukisan senyum tiga buah hati mereka.  Sebersit rasa bersalah hinggap di dadanya. Anin memantapkan hati.

 “Klik”. Ditekannya tombol “Ya” tanda konfirmasi setuju. Anin meninggalkan kenangan. Ia meninggalkan kisah mereka yang tetap belum usai.

Bengkulu Selatan, Januari 2018
#NggakUsahBaper_CumaInginBerkisah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Begini Cara Saya Hindari Baper di Medsos

Pantai Hili, Si Cantik Dari Kaur. Pesona Bengkulu, Indonesia

Pantai Berkas, Arena Wisata Keluarga Ramah Balita

SMPN 14 Bengkulu Selatan: Tentang Cinta dan Mimpi Indah

Sebab Cintaku, Cintamu, bukan Cinta Kita

Suatu Siang di Pelataran Grand Tjokro