Pantai Hili, Si Cantik Dari Kaur. Pesona Bengkulu, Indonesia

Hai gengs, Lebaran sebentar lagi. Udah tau mau refreshing kemana? Udah baca-baca referensi untuk cari info tempat-tempat keren untuk dikunjungin? Yuk, baca sampe abis. Hari ini saya mau mengabarkan sebongkah cerita tentang indahnya pesona pantai Hili yang ada di Kaur. Cekidot yeee.

Saya tinggal di Bengkulu Selatan tepatnya di desa Air Sulau kecamatan Kedurang Ilir sejak tahun 1986. Negeri Indonesia mini yang terletak diperbatasan kabupaten, merupakan desa terujung di kabupaten Bengkulu Selatan berbatasan langsung dengan kabupaten Kaur, provinsi Bengkulu. Kalau bicara tentang pesona, wah.. negeri ini punya segudang pesona, namanya juga Indonesia mini, semua pesona Indonesia jelas tumpah disini. Tapi kali ini saya bukan akan bercerita tentang negeri mini ini. Nantilah yaa... ada ulasan-ulasan cantik yang akan saya bagi di blog ini juga tentang pesona dan kharisma negeri miniatur Indonesia yang namanya juga populer di nusantara.


Balik lagi ke bahasan kita. Bicara tentang Kaur, tentu saja yang terbayang dalam ingatan adalah pantai, dermaga dan gurita. Saking tenarnya ketiga item itu kini jadi ikon Kabupaten terujung provinsi Bengkulu. Lihat saja tugu perbatasan yang kini berdiri gagah perkasa dan gambarnya viral senusantara, ada gurita berlatar biru pantai disana. Arsiteknya keren, bisa membuat sinopsis tentang kaur dalam kokohnya tugu jumawa. Bila kita melakukan perjalanan dari Kota Bengkulu ke provinsi tetangga, Lampung, negeri Serasan dan Seijeghan ini pasti dilewati dengan sempurna. Disepanjang perjalanan, kita akan di suguhkan pada pemandangan pantai yang indah menawan. Sebab melewati Kaur, sama saja menyusuri pesisir pantai, yang terbentang dari pantai Sulau hingga pantai Laguna Samudera.

Dari sekian banyak pantai yang menjadi spot wisata di Kaur, pantai Hili adalah salah satunya. Pantai yang berrtempat di desa Padang Hangat, Kaur bagian Selatan ini juga masih merupakan rangakain pantai hili yang membentang hingga ke Linau. Pantai ini berjarak kira-kira lima puluh kilometer dari tugu perbatasan Bengkulu Selatan.

Awal bulan lalu kebetulan saya bareng geng yang tercinta, jhiaaahhh, berkesempatan mengunjungi pantai yang menawan ini. Kalo di tempuh pake motor atau mobil ya kira-kira satu jam perjalanan. Maklum kecepatan saya mengendarai sepeda motor masih dibawah rata-rata. Soalnya saya sayang banget ama nyawa yang cuma sebatang dan nggak ada serepnya ini. Tapi kalo mau coba-coba tempuh pake jalan kaki sih kira -kira tiga hari perjalanan lah yaaa. Lumayan buat bikin betis sokot ala binaragawan, hihihi.


Pergi kesana sebenernya juga nggak sengaja sih. Weekend itu, kita dapet undangan pesta pernikahan keponakannya mister Big Bos. Pas kebetulan, tuh pantai kece ada di belakang rumahnya, berjarak kira-kira dua ratus meter. Wal hasil setelah kehabisan suara akibat konser dadakan dipanggung kebesaran, kita berniat ngadem cantik dipinggir laut. Meskipun ada tawaran motor pinjaman untuk ke pantai yang katanya asri banget itu, kita tetep memutuskan untuk berjalan kaki. Dek Hestri, si bungsu  yang punya jiwa paling romantis di squad kita bilang, "Biar moment indahnya ter-abadikan dengan sempurna", jhiahaha. Ya sudahlah, sekalian melatih otot-otot kaki yang akhir-akhir ini kelewat manja buat diajak jalan. Tapi kebayang nggak sih, gerombolan emak-emak kece pake pantovel high heel, berbaris rapi, jalan kaki menyusuri pematang sawah yang untung aja tanahnya nggak lembek-lembek amat. Huaaa...

Memakan waktu kira-kira lima belas menit dari jalanan utama, (maklum aja deh, kita jalan pake kecepatan siput), kita melangkah ceria menyusuri indahnya areal persawahan yang baru saja selesai dipanen. Setiap liku jalannya menorehkan cerita indah sebab moment seperti ini teramat jarang terjadi. Mungkin setelah hari itu, tak akan pernah terulang lagi.

Habis areal persawahan kita di sambut oleh hamparan kebun nyiur yang sejuk beralaskan rumput hijau bak permadani. Daunya melambai-lambai cantik ditingkahi gemerisik angin yang bertiup sepoi-sepoi basah. Hingga tibalah kita di tepi pantai nan cantik jelita. Sejauh mata memandang, warna hijau dan birunya laut tersuguhkan dengan sempurna. Ditepian, bongkahan karang-karang tajam terhampar jumawa. Butiran pasir halus berwarna keemasan tempat umang-umang berlarian membentang dengan indahnya.

Menyaksikan pemandangan sekeren ini sungguh, serasa surga hadir disini. Betapa tidak, duduk diatas hamparan rumput hijau, dibawah teduhnya barisan pohon kelapa sambil memandang samudera biru beserta debur ombaknya yang perkasa, ditemani suara gemerisik daun yang tertiup angin mendayu lembut, ahayyy.... surga yang mana lagi yang harus dicari. Sayangnya waktu itu saya dan gengs nggak bawa perbekalan yang sempurna. Makanan ringan dari rumah pengantin yang dibekalkan kepada kami, ditinggal dimobil. Beruntung ada buah kelapa muda yang kebetulan pemiliknya turut serta bersama rombongan, jadilah lapar dan dahaga sedikit terobati. Lumayan, paling tidak, cacing-cacing yang ada diperut tidak lagi berteriak-teriak minta asupan gizi.

Dihadapan nomena alam yang menghampar begitu sempurna ini, hati saya tak tahan untuk tidak bereksplorasi. Setelah melewati runcingnya karang tanpa alas kaki,  segera saya mencelupkan kaki ke air yang beningnya tingkat tinggi. Nyesss. Sejuknya langsung terasa seketika. Para emak kece yang lainnya pun  tak mau ketinggalan turut serta berlomba mencelupkan kaki ke air sejuk dengan tak lupa melepas high heel cantik dulu sebelumnya. Dan baca bismillah juga tentunya.


Dan proses panen rumput laut pun dimulai. Sungguh surga dunia pemirsa. Kebayang nggak sih, ada di area dimana rumput laut yang melambai-lambai kemayu dalam beningnya air airlaut ditingkahi ikan-ikan kecil yang berenang kian kemari sambil sesekali di terjang ombak berbiuh halus. Kami berlomba mencabut rumput yang kenyil-kenyil rasa jelly itu hingga dalam waktu yang relatif singkat, hitungan menit, kantong kresek yang kami bawa luber dengan sempurna.

Sementara geng bapak sayang anaknya sibuk dengan berburu umang-umang yang bersembunyi di sela karang tajam. Sesekali ikan cantik pun ikut menjadi buruan. Nggak jauh beda dengan geng emak kecenya, predikat sukses sempurna pun diraih geng bapak dengan perolehan umang-umang yang penuh di gelas air mineral. Sebagai bonus tiga ekor bulu babi cantik mendarat sempurna di telapak tangan para dara yang nggak kalah cantiknya.

Setelah selesai prosesi panen rumput laut dan berburu umang-umang, rasa haus pun melanda. Beruntung pemilik pohon kelapa ikut dalam rombongan,  jadi rasa haus dan lapar  terganjal sementara. Dan nggak terasa, senja mulai merapat ke peraduan menghadirkan sinar silau jingga dipelataran samudera. Kami pun beranjak pulang meninggalkan secercah keindahan dalam balutan ingatan bernama memori.

Dan akhir kata pemirsa,  harapan saya, semoga tulisan ini bisa jadi referensi sebagai bahan pertimbangan untuk berwisata ria bareng keluarga dan tetangga. Bertepatan ini mau lebaran juga makanya tempat kece ini bisa dijadikan alternati wisata, selain murah meriah pemandangan kecenya pun cukup membuat pandangan mata sejuk sempurna.










Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suatu Siang di Pelataran Grand Tjokro

Begini Cara Saya Hindari Baper di Medsos